Selasa, 24 Maret 2009

Hari pertama di kelas itu

Yang paling kuperhatikan adalah teman sebangkuku, tingginya melebihi aku, gerak geriknya lincah sekali, seperti pemain silat. Akhirnya aku tahu bahwa dia memang penggemar Silat tiongkok.
bener2 kungfu maniak...! masa itu film Pendekar rajawali adalah ikon pada masanya.
Dan Radix hapal jalan ceritanya ..temanku.
Tidak sekali dua aku berusaha mengikuti cerita2 silat yang baru pertamakali aku dengar dari Radix, dengan begitu aku bisa membayangkan ceritanya....wah seru juga ternyata, akhirnya akupun ketularan virus ....."sin Tiaw Eng Hiong" dan " Sian Tiaw Hiap Luw"edisi 1983

Dua orang yang saya undang pertama

Ketika memulai blog ini, ndak lepas dari jasa dua orang sahabat saya, dan kelak keduanya saya undang untuk menjadi kontributor disini.
Sahabat saya pertama adalah seorang seniman, hal pertama yang saya ingat darinya adalah, kami sama2 duduk di barisan paling belakang. Saya anggap dia salah satu dari temen2 saya yang kulitnya paling putih untuk ukuran seorang cowok, di semarang lagi- yang notabene panasnya minta ampun. di masa2 selanjutnya yang kadang kami lakukan adalah datang ke rumahnya beramai2 untuk minta minum, dan lucunya semua anggota keluarganya selalu saja menyambut kami dengan es sirup atau es teh lengkap dengan jajanannya. Satu yang saya sulit lupakan dari sahabat saya ini adalah ketika dia memetik gitar..... tapi saya nggak tau waktu itu dia sudah pernah main gitar di depan cewek2 temannya apa belum..:)
Sahabat saya yang saya undang selanjutnya adalah juga seniman, dalam hal menghadapi setiap orang, kemampuannya melihat hal yang lucu dari setiap hal membuat tidak ada yang tidak lucu di dalam kelas. Duet dengan "kembarannya", sahabat saya ini semula saya kira kembar....lama saya perhatikan....ternyata bukan, mereka tidak kembar..tapi memang sama2 rame..heheehh
welcome...Luluk.....welcome...Wied

Dua Puluh Lima Tahun lalu - dari sekarang

Untuk seorang anak smp, ukuranku sangat canggung, tinggi ndak -pendek jelas iya, waktu masuk kelas itu, yang kuperhatikan pertamakali adalah plafonnya tinggi bangget.....empat meter.
Hmm...memang beginilah model bangunan Kolonial Tropis, sisa peninggalan Belanda. Di masa yang akan datang akhirnya aku tahu bangunan yang aku tempati adalah sekolah jaman Belanda M.U.L.O ( Meer Uitgebreid Lager Onderwijs ) MULO menggunakan Bahasa Belanda sebagai bahasa pengantar. Pada akhir tahun 30-an, sekolah-sekolah MULO sudah ada hampir di setiap kota kawedanaan (kota kabupaten).

Gambar di sebelah ini mungkin akan mewakili keadaannya saat itu ( terimakasih buat www.oprekpc.com) dan saat pertengahan tahun 1949 -1953 tempat itu dijadikan sekolah darurat, dibilang darurat karena muridnya tentara - guru2nya juga ada tentara , dan masih ada juga guru2 kebangsaan Belanda yang mengajar disana.


Aku sendiri masuk kesitu dengan status yang "serba tanggung", masuk di pertengahan semester, di tengah tahun yang benar2 serba separuh......hehehe.

ketika masuk ke kelas itu, aku memilih duduk di belakang,bangku paling belakang sap dua dari kiri, dan kelak aku tak kan mau pindah dari sisi teman sebangkuku.... Radix.